Humas UM Sumatera Barat – Di tengah meningkatnya ancaman bencana ekologis, kabar membanggakan datang dari Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat. Dosen Fakultas Kehutanan UM Sumatera Barat, Fauzan, S.Si, M.Si berhasil meraih dana hibah penelitian nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdikti Saintek). Berita ini seakan menjadi angin segar dalam pengkajian keanekaragaman hayati di bidang kehutanan.
Penelitian bertajuk “Dampak Galodo terhadap Keanekaragaman Jenis dan Struktur Komunitas Amfibi di Daerah Aliran Sungai Kota Padang” tersebut menjadi semakin penting mengingat galodo yang terjadi pada November-Desember 2025 tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah Kota Padang. Bencana tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian material hingga Rp264,36 miliar, tetapi juga meninggalkan luka ekologis dan psikologis mendalam.
Dalam penelitian ini beliau tidak hanya sendiri, tetapi juga menggandeng tim kolaboratif yang terdiri dari dosen Kehutanan UM Sumatera Barat Eko Subrata, S. Hut, M.Hut, kemudian dosen Pendidikan Biologi Universitas Mahaputra Muhammad Yamin Chairul Amri, S.Pd, M.Pd serta mahasiswa Kehutanan UM Sumatera Barat Zhafran Hamid. Kolaborasi lintas bidang tersebut memperkuat pendekatan ilmiah yang digunakan dalam memahami kompleksitas dampak bencana.
Beliau mengatakan, galodo yang melanda sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) di Padang diketahui dipicu oleh kombinasi faktor lingkungan dan aktivitas manusia, seperti illegal logging di kawasan hulu serta tingginya tingkat alih fungsi lahan pasca gempa 2009. Dalam satu dekade terakhir, Kota Padang kehilangan sekitar 3.400 hektar hutan, kondisi yang memperparah risiko bencana sekaligus mengancam keseimbangan ekosistem.
“Di balik kerusakan fisik yang terlihat, terdapat ancaman serius terhadap biodiversitas, terutama amfibi. Hewan ini memegang peranan penting sebagai bio indikator kesehatan lingkungan. sifatnya yang sensitif terhadap perubahan habitat menjadikan amfibi sebagai “alarm alami” kerusakan ekosistem,” tuturnya.
Lebih lanjut beliau menjelaskan, pada penelitian sebelumnya di tahun 2023 tercatat keberadaan 30 spesies amfibi di area DAS Kota Padang. “Namun, dampak galodo diduga telah merusak habitat alami mereka, meningkatkan risiko penurunan populasi hingga kepunahan,” terang beliau.
Melalui penelitian tersebut papar beliau, tim berupaya mengungkap secara ilmiah sejauh mana galodo memengaruhi keanekaragaman dan struktur komunitas amfibi. Kajian mencakup perbandingan kondisi sebelum dan sesudah bencana, analisis perubahan struktur komunitas, identifikasi faktor lingkungan dominan, hingga pengaruh kerusakan habitat terhadap distribusi dan relung ekologi amfibi.
“Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei lapangan dengan teknik Visual Encounter Survey (VES) yang dikombinasikan dengan transek. Setiap individu amfibi yang ditemukan akan didokumentasikan dan diidentifikasi, serta dianalisis bersama parameter lingkungan seperti suhu, kelembapan, penutupan tajuk, kedekatan dengan badan air, dan tingkat gangguan manusia. Analisis lanjutan mencakup keanekaragaman alfa dan beta serta hubungan antara keberadaan amfibi dengan faktor lingkungan,” ungkapnya.
Hasil penelitian tersebut diharapkan beliau mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai dampak galodo terhadap biodiversitas amfibi di DAS Kota Padang serta datanya diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan restorasi sungai dan hutan, serta strategi konservasi keanekaragaman hayati. “Selain itu penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek air bersih dan sanitasi, kota berkelanjutan, penanganan perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem perairan,” terangnya.
Sebagai luaran utama ungkap beliau, tim peneliti menargetkan publikasi artikel ilmiah pada jurnal internasional terindeks Sinta 2, yaitu Jurnal Riset Biologi. Sementara luaran tambahan berupa publikasi pada forum ilmiah internasional Bioinformatics and Biodiversity Conference. “Melalui penelitian ini, diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi akademik, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan di Kota Padang,” pungkasnya. (tia)